Jawaban Bab 8 (Parkir)

BAB PARKIR
1. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM 66 Tahun 1993 tentang Fasilitas Parkir untuk Umum dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM 4 Tahun 1994 tentang Tata Cara parkir Kendaraan Bermotor di Jalan telah diatur fasilitas parkir untuk umum dan tata cara parkir di jalan, dengan Keputusan Dirjen Darat No. 272/HK.105/DRJD/96.
2.
 Metode berdasarkan kepemilikan kendaraan
 Metode berdasarkan luas lantai bangunan
 Metode berdasarkan selisih terbesar antara kedatangan dan keberangkatan kendaraan
3.
 Durasi Parkir : Lama waktu dimana kendaraan masih berada pada posisi parkir
 Akumulasi Parkir : Jumlah kendaraan yang parkir pada suatu saat tertentu, di suatu tempat gedung parkir atau pelataran parkir.
AP = Ei − Ex
dimana:
AP adalah akumulasi parkir
Ei adalah jumlah kendaraan yang masuk ketempat parkir
Ex adalah jumlah kendaraan yang keluar tempat parkir
 Tingkat Pergantian :
 Tingkat Penggunaan (Occupancy Rate)
 Volume Parkir
 Kapasitas Parkir
 Indeks Parkir
 Rata-rata Durasi Parkir
 Jumlah Ruang Parkir
4.

Gol. I B = 1,70 a1 = 0,10 Bp = B + O + R
O = 0,55 L = 4,70 Lp = L + a1 + a2
R = 0,05 a2 = 0,20 Bp = 2,30 Lp = 5,00
Gol. II B = 1,70 a1 = 0,10
O = 0,75 L = 4,70
R = 0,05 a2 = 0,20 Bp = 2,50 Lp = 5,00
Gol. III B = 1,70 a1 = 0,10
O = 0,80 L = 4,70
R = 0,05 a2 = 0,20 Bp = 3,00 Lp = 5,00
SATUAN RUANG PARKIR (MOBIL)

SATUAN RUANG PARKIR TRUK

Kecil B = 1,70 a1 = 0,10 Bp = B + O + R
O = 0,80 L = 4,70 Lp = L + a1 + a2
R = 0,30 a2 = 0,20 Bp = 2,80 Lp = 5,00
Sedang B = 2,00 a1 = 0,20
O = 0,80 L = 8,00
R = 0,40 a2 = 0,20 Bp = 3,20 Lp = 8,40
Besar B = 2,50 a1 = 0,30
O = 0,80 L = 12,00
R = 0,50 a2 = 0,20 Bp = 3,80 Lp = 12,50

5.
• Sistem Karcis : lebih displin dengan antrean
• Tarif Parkir : tak beraturan antrean dan waktu markir kendaraannya
• Sistem kartu dan disk : lebih cepat
• Pembatasan Wilayah Parkir Untuk Kendaraan Berat : terkoordinir
• Pembatasan Wilayah Parkir Pada Sistem Jaringan Jalan : cepat

6. Penentuan Sudut Parkir:
 Lebar jalan
 Volume lalu lintas pada jalan yang bersangkutan
 Karakteristik kecepatan
 Dimensi kendaraan
 Sifat peruntukan lahan sekitarnya dan peranan jalan yang bersangkutan

7. Manfaat :memahami karakteristik parkir pada sisi jalan dan pengaruhnya terhadap
kapasitas jalan di Jalan Mataram Yogyakarta.
Ada, contohnya di daerah jalan Kedung Doro , lahan parkir yang ada di jalan menggunakan posisi kemiringan kendaraan hampir 45º.

Jawaban BAB 9 Keselamatan lalu Lintas

1. Ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadikanya kecelakaan:
 faktor manusia
 faktor kendaraan
 faktor jalan
 faktor cuaca
2. Ada tiga komponen terjadinya lalu lintas :
• manusia sebagai pengguna
• kendaraan
• jalan yang saling berinteraksi dalam pergerakan kendaraan yang memenuhi persyaratan kelaikan dikemudikan oleh pengemudi mengikuti aturan lalu lintas yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundangan yang menyangkut lalu lintas dan angkutan jalan melalui jalan yang memenuhi persyaratan geometrik.
3.
 Bidang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan
 Bidang Sarana
 Bidang Sumber Daya Manusia
 Bidang Kelembagaan
4. . a) Metode pre-emptif (penangkalan)
 Perencanaan pengembangan kota
 Perencanaan tata guna lahan
 Perencanaan pengembangan transportasi
 Perencanaan pengembangan angkutan umum

b) Metode preventif (pencegahan)
 Upaya pengaturan faktor jalan
 Upaya pengaturan faktor kendaraan
 Upaya pengaturan faktor manusia
 Upaya pengaturan lingkungan
 Upaya pengaturan sistem lalu lintas
 Upaya pengaturan pertolongan pertama pada gawat darurat

c) Metode represif (penanggulangan)

5. Perbaikan permerintah
 Perbaikan jalan/jembatan dan perlengkapan, pada lokasi-lokasi yang rawan terhadap kecelakaan
 Perbaikan terhadap peraturan lalu lintas yang diberlakukan di ruas-ruas jalan tertentu yang rawan terhadap kecelakaan lalu lintas
 Pemberian arahan dan bimbingan kepada masyarakat
 Penegakan hukum bagi pemakai jalan, khususnya terhadap hal-hal yang rawan terhadap kecelakaan lalu lintas.
6.Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dan upaya dalam keselamatan lalu lintas. Semua ini dapat di aplikasikan di kota surabaya untuk mengetahui berapa besar jumlah kecelakaan yang ada di kota surabaya ini.
7. SELAMAT MENGERJAKAN JEHHHHH… 😀

Jawaban tugas Rekayasa Lalu Lintas (Bab Pejalan Kaki)

1. Dalam Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan disebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. Alasannya karena itu tadi, ringkih jika berbenturan dengan kendaraan.Fasilitas pejalan kaki adalah seluruh bangunan pelengkap yang disediakan untuk pejalan kaki guna memberikan pelayanan demi kelancaran, keamanan dan kenyamanan serta keselamatan bagi pejalan kaki

2. Jalur pejalan kaki adalah lintasan yang diperuntukkan untuk berjalan kaki.Contoh : Trotoar, penyeberangan sebidang (penyeberangan zebra atau penyeberangan pelikan), dan penyeberangan tak sebidang (Jembatan penyeberangan & Terowongan)

3. Lokasi jalur pejalan kaki yang ideal menurut saya:
Fasilitas pejalan kaki harus dipasang pada lokasi-lokasi dimana pemasangan fasilitas tersebut memberikan
manfaat yang maksimal, baik dad segi keamanan,kenyamanan ataupun kelancaran perjalanan bagi pemakainya.
Tingkat kepadatan pejalan kaki, atau jumlah konflik dengan kendaraan dan jumlah kecelakaan harus digunakan
sebagai faktor dasar dalam pemilihan fasilitas pejalan kaki yang memadai.
Pada lokasi-lokasi/kawasan yang terdapat sarana dan prasarana umum.
Lebar efektif minimum ruang pejalankaki berdasarkan kebutuhan orang adaah 60 cm ditambah 15 cm untuk
bergoyang, sehingga kebutuhan total minimal untuk 2 orang pejalan kaki bergmidengul atau 2 orang pejaan kaki
berpapasan tanpa terjadi berpapasan menjadi 150 cm.
Lebar Jalur Pejalan Kaki harus ditambah, bila pada jalur tersebut terdapat perlengkapan jalan(road furniture)
seperti patok rambu lalu lintas, kotak surat, pohon peneduh atau fasilitas umum lainnya.
Jalur Pejalan Kaki harus diperkeras dan apabila mempunyai perbedaan tinggi dengan sekitarnya harus diberi
pembatas yang dapat berupa kerb (berem) atau batas penghalang.
Perkerasan dapat dibuat dari blok beton, perkerasan aspal atau plesteran.
Permukaan harus rata dan mempunyai kemiringan melintang 2-3 % supaya tidak terjadi genangan air. Kemiringan
memanjang disesuaikan dengan kemiringan memanjang jalan, yaitu maksimum 7 %.

4. Dalam keadaan ideal untuk mendapatkan lebar minimum Jalur Pejalan Kaki (W) dipakai rumus
sebagai berikut: w=p/35+1,5
Keterangan:
P = volume pejalan kaki (orang/menit/meter)
W = lebar Jalur pejalan kaki.

5. a) Trotoar.
b) Penyeberangan Sebidang: Penyeberangan zebra cross & Penyeberangan Pelikan.
c) Penyeberangan Tak Sebidang: Jembatan penyeberangan & Terowongan.
Yang cocok untuk diterapkan di daerah Surabaya : Trotoar, zebra cross, dan jembatan penyebrangan.

6.
Trotoar :
Tentukan besarnya arus pejalan kaki dalam orang/menit/meter dalam satu lintasan, satu seksi yang mewakili ruas jalan.
Dengan menggunakan rumus dimensi lebar Jalur Pejalan Kaki, tetapkan lebar Jalur Pejalan Kaki (W) dalam meter.
Kalau ada fasilitas pelengkap, tetapkan penambahan lebar Jalur Pejalan Kaki.

Penyeberangan Sebidang :
Tentukan besarnya arus lalu lintas penyeberangan jalan (P) dalam orang/jam.
Tentukan volume lalu lintas kendaraan (V) dalam kendaraan/jam.
Hitung besarnya nilai PV2.
Dengan nilai PV2, Tetapkan jenis fasilitas penyeberangan jalan.

Penyeberangan Tak Sebidang :
Tentukan besarnya arus lalu lintas penyeberangan jalan (P) dalam orang/jam.
Tentukan volume lalu lintas kendaraan (V) dalam kendaraan/jam.
Hitung besarnya nilai PV2.
Dengan nilai PV2, Tetapkan jenis fasilitas penyeberangan

7. Menurut saya ada beberapa titik jalan di kota Surabaya yang bisa diterapkan dalam penelitian syahri (2006) dan munawaroh (2009). Misalnya: Jl.Raya Darmo, Jl.Mayjend Sungkono, Jl.Ahmad Yani, Jl. Hr. Muhammad, Jl.Bubutan, Jl. Dr. Soetomo, Jl. Kertajaya, Jl. Dharmawangsa, dll.

Jawaban tugas Rekayasa Lalu Lintas (Bab Rambu Lalu Lintas)

1. Rambu lalu lintas adalah salah satu alat perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang, huruf, angka, kalimat dan/atau perpaduan di antaranya, yang digunakan untuk memberikan peringatan, larangan, perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. Sebagai alat pengendali lalu lintas melalui informasi yang disampaikan dengan tujuan bisa, meningkatkan keselamatan dan kelancaran lalu lintas

2. Jenis informasi rambu:
 Rambu Peringatan
 Rambu Larangan
 Rambu Petunjuk
 Rambu Perintah

3. Syarat:
 Secara bentuk;
• Bulat menunjukan larangan.
• Segiempat pada rambu diagonal menunjukan peringatan bahaya dan petunjuk.
 Warna rambu;
• Merah menunjukan bahaya.
• Kuning menunjukan peringatan.
• Tiang penyangga biasanya berwara abu-abu.

4. Untuk pengaturan lalu lintas dalam keadaan darurat atau untuk sementara waktu dan dapat dipindah-pindahkan sesuai dengan kebutuhan.

5. Misalnya: Di daerah kawasan dekat kampus STIESIA ada proyek pembangunan yang memakan waktu cukup lama. Sebaiknya diberi rambu “ hati-hati ada proyek” , “ awas jalan bergelombang” , “bahaya bising” , “gunakan masker untuk menghindari debu”.

6. rambu “hati-hati ada proyek” dipasang di depan, samping kanan kiri proyek, rambu “awas jalan bergelombang” dipasang di samping kanan kiri jalan mengingatkan pengendara bahwa di daerah dekat proyek jalanannya kurang bagus jadi agar menurunkan kecepatan agar tidak patah pegas, rambu “bahaya bising” dipasang di depan proyek untuk mengingatkan pengendara kebisingan proyek agar tak mengganggu konsentrasi pengendara, rambu “gunakan masker untuk hindrai debu” dipasang di depan proyek agar pengendara dan orang sekitar proyek menggunakan masker di kawasn tersebut untuk menjaga pernapasannya agar tak terganggu.